Misteri Berkah 2: Sabar Menuntut Ilmu

“Cinta tanpa seks bagai pengajian tanpa besek.” tulis seorang filsuf di diding toilet SMA saya dulu.

Begitu pula rasanya jika belajar susah payah tapi manfaat ilmunya belum terlihat signifikan. Bagai cinta tanpa seks.

Maka, satu dari tiga doa yang selalu saya panjatkan setelah sholat, paling tidak setahun terakhir, adalah supaya ilmu yang dipelajari sekarang bermanfaat.

Sayang banget soalnya sudah keluar dana besar (walau bukan uang saya), waktu, tenaga, dan tentunya perasaan (mulai terkikis harga diri kebanyakan dikritik).

***

Setelah kajian shubuh akhir Juli kemaren, Pak Joko datengin saya. IMCQ (komite pembangunan Masjid Indonesia di QLD) minta bantuan bikinin website katanya.

Diskusi dengan ketua management dan beberapa orang terkait. Mau nurunin website yang ada dan ganti baru dengan yang lebih dinamis dan ada fitur donasinya.

Sudah minta ke beberapa pihak lain katanya, tapi ga ada progress. Ya sudah, insya Allah saya menyanggupi: 3 bulan targetnya.

Sudah lama sebetulnya tidak ‘mengotori tangan’ dengan web domain, hosting, dan desain. Tapi menurut saya ga akan ribet-ribet amat.

***

Lagi asyik nulis di office, pintu ruangan ada yang ngetuk. Ternyata dua dosen: satu supervisor (a.k.a bang bos) dan satunya ternyata dosen data mining semester ini (sebut saja Mamet).

Bang bos cuma nganterin Mamet ke ruangan saya. Begitu Mamet ngomong ke saya bang bos langsung cabut.

Mamet bilang: Lo tutor data mining tahun lalu, XZ (dosen data mining tahun lalu) bilang kerja lo bagus, kenapa semester ini ga daftar tutor?

Belum sempet ngucap sepatah kata, Mamet langsung ngajak saya ke ruangannya supaya ngobrol bisa privat.

Intinya saya bilang, ini tahun terakhir PhD saya. Jadi, mau fokus aja. Ga ada masalah apa-apa.

Terus Mamet menawar. Gimana klo kita buat super simple aja semester ini: Tugas Project pre-defined alias ditentukan (instead of mereka ngajuin proposal masing-masing) dan saya hanya ngisi practical tutorials (yang teoretical dihandle tutor lain).

Dia allocate 100 jam dengan spec kerjaan begini. Rate sekitar $45/jam. Lumayan $4,500-$5,000 rayunya.

Suka overtime memang biasanya klo grading, jadi memang biasanya lebih dari yang dialokasikan. Tapi 100-an jam ga terlalu banyak keliatannya. Jadi saya insya Allah menyanggupi juga tawaran tutor ini.

***

Sabtu malam (8 Sep 2018), management IMCQ mengadakan gala diner perdana di kepengurusan yang baru. Makanan dan servicenya luar biasa, sudah kelas hotel bintang lima.

Sosialisasi 2nd Phase Development: butuh AU$282K dan juga website yang baru. Belum ada dua bulan dari assignment ke saya ini.

Ternyata memang ga ribet buat website. Teknologinya ga banyak berbeda dari apa yang saya pelajari di tingkat awal kuliah S1 di Fasilkom UI dulu.

Manage domain, hosting, install CMS (wordpress), create email, activate template & plugins, dsb. Apalagi ada tim yang mikirin konten dan siap masukin ke sana. Jadi saya fokus ke fitur-nya aja.

Yang agak ribet dan masih pending adalah soal donasi. Masih pending setup untuk SSL certificate dan pilih payment gateway-nya. Duit umat soalnya. Selain harus secure, pilih yang cost-efficient juga untuk charge-nya.

***

Tutor data mining juga menyenangkan. Well, at least so far!

Dua tahun sebelumnya jadi tutor data mining, jadi sudah lebih siap baik dari segi technical maupun mental. Jaauuuh lebih enjoy ngisinya.

Peserta kuliah 200-an, dibagi 4 kelas tutorial. Peraturan UQ, kelas tutorial pertama dapet tambahan 2 jam persiapan. Kelas tutorial kedua dan seterusnya masing-masing dapet 1 jam persiapan.

Jadi ngisi 4 jam sepekan dikelas, dihitungnya otomastis 9 jam oleh sistem. Payment tiap dua pekan sekitar $800, well $900-an klo ikut dihitung dana pensiun yang disumbang kampus ke akun unisuper kita. Alhamdulillah, lumayan buat nambah beli susu anak!

***

Teknologi web yang dulu saya pelajari siang malam saat awal kuliah S1, kini terlihat sederhana dan terasa manfaatnya. Lumayan bisa bantu IMCQ. Semoga bisa jadi bagian jamaah yang ikut bangun masjid.

Data mining related area yang dulu mati-matian saya pelajari selama S2, kita terlihat simple dan terasa manfaatnya. Lumayan bisa bantu 200-an mahasiswa. Semoga saya jadi bagian penting dari learning development mereka.

Sekarang selama S3 ini saya mempelajari berbagai hal mati-matian siang dan malam. Literature review, membuat reasoning, menemukan novel approach, menulis, dsb. Semoga beberapa tahun kedepan, hal-hal kompleks ini menjadi skill set yang sederhana bagi saya. Harapannya bisa bermanfaat juga.

Jadi memang menuntut ilmu kudu wajib harus sabar. Jangan stress klo belum liat hasilnya. Mungkin belum sekarang, tapi nanti baru keliatanya hasilnya.

Diri saya yang sekarang bersyukur atas kesabaran diri saya dahulu dalam memahami samudera laut ilmu komputer (sambil nyanyi mars fasilkom). Semoga diri saya masa depan juga punya rasa yang sama.

Jadi, kita sabar aja. Sambil terus berusaha, berdoa, dan jangan lupa untuk bahagia nikmati prosesnya.

Brisbane, 9 September 2018

2014: The year for the third wish?

Umrah Bersama Rinaldy, KAUST Fellows..
Umrah Bersama Rinaldy, KAUST Fellows..

Sudah di penghujung 2013, berarti saya sudah sekitar 2 tahun kembali ke tanah air. Masih segar dalam ingatan, akhir Desember 2011 back for good dari KAUST. Sebelum pulang, umrah perpisahan, saya mengucapkan tiga doa. Alhamdulillah dua dari tiga doa tersebut dikabulkan oleh Allah swt. Berarti sekarang tinggal yang ketiga. Saya percaya Allah swt. akan memberikan hambaNya yang terbaik pada saat yang tepat. Somehow, saya merasa tahun 2014 ini adalah saat yang tepat. Just feeling. Memangnya apa sih ketiga doa tersebut? Read more