Membersamai Anak Pertama

#5YearsChallenge: Membersamai Anak Pertama
#5YearsChallenge: Membersamai Anak Pertama

Saat QRQ (tahsin), seorang bapak curhat kekhawatiran mengatasi putri pertamanya saat nanti 18 tahun. Karena pada usia itu, si bapak secara legal di Australia ini sudah tidak punya kontrol lagi terhadap anaknya. Tidak bisa melarang mau tidur dimana, dengan siapa, dan berbuat apa. Khawatir setelah melihat isi handphone anaknya..

Di lain pihak, ada orang tua lokal sini yang jengkel dengan anaknya yang sudah 18 tahun tapi masih tinggal di rumah. Penggenya dia sudah mandiri, kuliah sambil kerja part-time, atau bagaimana. Karena memang budayanya begitu..

Lain padang lain ilalang..

Kalau di Indonesia, biasanya anak masih tanggung jawab orang tua sampai lulus kuliah atau bahkan sampai menikah. Adalah hal yang wajar jika menemukan anak (?) usia 22 tahun masih tinggal sama orang tua. Ekspektasi mandiri baru setelah lulus sarjana atau setelah menikah..

Kalau di Australia dan mungkin juga negara maju pada umumnya, tanggung jawab orang tua sampai usia 18 tahun alias lulus Year 12 (high school). Setelah itu, umumnya pada cari study loan bagi mereka yang meneruskan kuliah sambil kerja part-time untuk bayar tagihan rent, dsb..

Lalu bagaimana dengan tuntunan Islam?..

Diskusi dengan Bang Bendri waktu beliau ke Brisbane Agustus tahun lalu, ternyata tuntutan mandiri relatif lebih awal lagi. Bukan 22 tahun seperti di Indonesia, bukan 18 tahun seperti di Australia, tapi saat Baligh yang ditandai dengan mimpi basah (pria) atau menstruasi (wanita). Jadi sekitar usia 14 tahun..

Panduan umumnya, 7 tahun pertama fokusnya anak dekat dan cinta dengan orang tua. Ini masa mengikat erat kasih sayang dan menanamkan Tauhid. Kemudian 7 tahun berikutnya fokusnya menanamkan nilai-nilai dan kedisiplinan. Ini masa mendisiplinkan sholat 5 waktu, mendalami nilai Al Quran, dsb..

Setelah usia 14 tahun, anak kita bukan lagi “anak” kita. Dia sudah punya otak untuk membedakan baik dan buruk. Sudah harus bertanggungjawab atas perbuatannya dan punya catatan amal sendiri. Dan, idealnya memang sudah bisa mandiri. Relasi dengan orang tua sudah lebih seperti sahabat atau mentor..

Jika step-nya terbalik atau bahkan terlewat bisa rawan. Misalnya kasus orang tua yang curhat anaknya hafal banyak juz tapi males sholat, melawan sama orang tua, bahkan ada yang kecanduan maksiat..

Memukul anak (dengan pukulan yang tidak menyakitkan tentunya) saat 10 tahun tidak mau sholat HANYA boleh dilakukan jika si orang tua sudah memenuhi kewajibannya mengingatkan sholat sejak usia 7 tahun dan menanamkan Tauhid dan kasih sayang di 7 tahun pertamanya.

Kata Bang Bendri klo belum ngingetin sholat sebanyak 3 tahun x 300an hari x 5 waktu = 4500 kali, maka jangan pukul itu anak..

Dulu mungkin sulit untuk bisa mandiri saat usia 14 tahun: belum punya skill, di bawah umur, dsb. Tapi dengan kemajuan teknologi zaman now ini, sepertinya bukan hal yang mustahil lagi. Banyak revenue stream yang bisa digarap anak 14 tahun-an. Yang penting orang tua bisa memfasilitasi, memotivasi, dan membimbing si anak..

Anak Pertama: tantangan seorang Ayah..

Kata Ustadz Bachtiar Natsir, mengasuh anak pertama itu tantangan terbesar bagi seorang ayah. Karena saat itu, karir dan rumah tangga masih dibangun dan belum benar-benar mantap. Pengalaman membesarkan anak juga belum ada..

Kalau anak kedua dan seterusnya insya Allah lebih mudah. Sudah berpengalaman dan karir juga sudah relatif lebih bagus kata beliau. Dan memang iya sepertinya, saya beruntung lahir sebagai anak terakhir – sudah berkecukupan. Tidak merasakan masa-masa prihatin kakak-kakak yang sering diceritakan, haha..

Salam hormat saya untuk semua ayah yang mau membersamai tumbuh kembang anak pertamanya. Adalah fitrah muncul rasa cinta dan sukacita saat anak pertama lahir. Tapi bagaimana saat mesti begadang saat ingin tidur panjang, harus antar jemput dan nemenin anak saat ingin fokus kerja, dsb..

Musim bergulir, tahun berganti, relasi dengan anak pun berubah. Saat ini seperti raja dengan pelayan, nanti seperti murid dengan guru, dan pada akhirnya seperti dua orang sahabat tempat bertukar pikiran. Namun satu yang pasti, cinta takkan pernah berubah..

Time flies, love doesn’t..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s