Misteri Berkah 1: Merasa Cukup

Foto bersama Prof. Xue Li (bang bos). Fikri dibelakang yang susah diajak foto bareng.
Foto bersama Prof. Xue Li (bang bos). Fikri dibelakang yang susah diajak foto bareng.

Next week. Group Meeting. Gold Coast.” Begitu kata Bang Bos saat rapat group pekanan.

Jadilah hari selasa (24/7) kita main di pinggir pantai. Bawa mobil sekitar 1,5 jam dari Brisbane sama anak istri.

Acaranya dimulai dengan jalan-jalan di Burleigh Head National Park . Kemudian barbeque di Currumbin. Mereka semua faham kalau yang muslim hanya makan halal.

Beli lamb chops dan beef steaks yang sudah dibumbui di Halal Butcher. Teman-teman yang lain siapkan seafood, sayuran, noodle, buah, minuman, dan lainnya yang sudah pasti halal.

Barbeque bersama Suresh (Nepal) and Yanjun (China). Mereka sesama PhD Candidate.
Barbeque bersama Suresh (Nepal) and Yanjun (China). Mereka sesama PhD Candidate.

Ada yang vegetarian, ada yang alergi udang, dan sebagainya. Penting untuk saling memahami dan mengakomodir dietary setiap orang.

Setelah kenyang makan, kita berjalan menyusuri pantai. Tak kalah bagus dengan surfer paradise, tapi yang pasti lebih senggang tentunya.

Saat kita berjalan-jalan, ada yang sedang sesi pemotretan, main semacam parasut, jetski, dan mancing. Pantai di Gold Coast dan Queensland pada umumnya memang luas, indah, dan ga ada matinya. Masya Allah.

Xue Li's research group dan keluarga. Hanya dua member yang berhalangan hadir
Xue Li’s research group dan keluarga. Hanya dua member yang berhalangan hadir

Setelah main di pantai, kita mulai sesi group meeting. Yes, we did have group meeting. Tapi pastinya lebih santai dari biasanya. Tidak membahas hal yang terlalu technical.

Kemaren ada kompetisi three minutes thesis (3MT): presentasi riset PhD dalam 3 menit. Pada males berpartisipasi, temasuk saya.

Ada satu yang ikut, Miranda. Bukan hal mudah menjelaskan hal technical 80,000 kata dalam 180 detik. Dalam presentasi 30 menit saja masih kesulitan.

Xue Li shared his experiences and gave some career & life advices.
Xue Li shared his experiences and gave some career & life advice.

Surprisingly, Xue Li bilang: “Three minutes is more than enough. In the real world, you may only have less than 30 seconds to explain.” Dalam dunia nyata, orang tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan kita, apalagi kalau tidak menarik dan sulit dimengerti.

Bang bos mencontohkan saat dapet grant “UQ Image” dari Vice Chancelor (VC), orang yang sharp dan supersibuk. Dia cuma menghadap sebentar dan bilang: “Many people talking about UQ in social media, do you want to know?”.

VC tertarik. Bang bos kemudian melanjutkan pertanyaan: “They are not only talking about UQ, but also about QUT, Griffith, and other universities. Do you want to know?”

Setelah VC setuju, Bang bos baru memberikan idenya tentang “Opinion Search Engine” untuk melihat dan menyimpulkan pendapat orang, termasuk current and prospect students tentunya, tentang UQ dan universitas lain.

VC cuma bertanya: “Can you do that?” Setelah bilang yes, Bang bos langsung diarahkan ke staff-nya VC dan kemudian dapet funding AU$300k.

Oia, Miranda akhiranya jadi runnerp up 3MT di level school. Congrats Miranda!

Waktu yang Seolah Takkan Pernah Cukup

DKE
“We have stopped for a moment to encounter each other, to meet, to love, to share. This is a precious moment. It is a little parenthesis in eternity.” The Alchemist

Waktu pasti takkan pernah cukup untuk melakukan semua yang kita inginkan. Kita selalu merasa kurang, kurang, dan kurang. Ga sempet, ga sempet, dan ga sempet.

Unfortunately, most of the time that mindset holding me (and maybe you) back to take an opportunity, face a challenge, give a useful contribution to a community, and enjoy work-life balance.

Istri cerita klo ada temennya yang setiap hari sampe di kampus jam 6 pagi dan baru pulang jam 9 malam. Anehnya, dia selalu curhat merasa waktunya selalu kurang.

Setelah banyak curhat sama istri, ternyata itu karena terlalu banyak ikut workshop yang tidak terlalu relevan, baca jurnal yang kurang berhubungan, dan hal-hal lain yang kurang produktif.

Kalau kita dikasih waktu 30 menit untuk kasih seminar, biasanya cenderung banyak yang sebenernya ga perlu dikatakan. Beda kalau hanya 3 menit, setiap kata dan kalimat sudah disusun rapi.

Demikian juga klo punya jam kerja yang terlalu banyak, bisa jadi malah kurang produktif dibandingkan dengan mereka yang punya jadwal ketat. Ya, bisa jadi para PhD student yang mesti antar jemput anaknya ga boleh telat lebih produktif karena menghargai waktu dan terlatih bagaimana mengoptimalkannya.

Beberapa negara sudah membuat aturan 6 jam per hari. Bahkan beberapa perusahaan sudah mulai mengujicoba 4 hari kerja per pekan. Hasil riset mereka menunjukkan bekerja terlalu lama menurunkan kualitas dan produktifitas.

Tidak Hanya Soal Waktu

Play with the waves
Play with the waves

Merasa cukup tidak hanya soal waktu, tapi juga lainnya. Misalnya soal harta.

Tidak sedikit yang merasa gagal kalau tidak bisa membawa pulang sekian ratus juga (untuk yang sekolah magister) atau bahkan sekian miliar (untuk yang sekolah doktoral) dari hasil kerja sampingan di Australia.

Sudah ada yang meninggal beberapa mahasiswa di Melbourne dan Canberra. Disinyalir karena kelelahan bekerja. Di Brisbane alhamdulillah belum ada, semoga tidak ada. Tapi yang sakit karena badannya rusak tidak sedikit.

Padahal kita semua tahu teorinya bahwa rezeki tidak hanya soal materi. Tapi juga kesehatan, momen berkualitas bersama keluarga dan sahabat, ilmu yang bermanfaat untuk diaplikasikan saat kembali nanti, dan sebagainya.

Tapi hidup adalah sebuah pilihan: ingin merasa cukup dan bersyukur atau selalu merasa kekurangan dan melampaui batas dalam bekerja.

Yang jelas, jangan sampai kita kurang menikmati dan mensyukuri rezeki yang telah diberikan Allah swt. Insya Allah dengan merasa cukup, hidup jadi lebih berkah.

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s