Jangan Lupa Bahagia

“St Lucia is beautiful but PhD life is not.”, begitu kata bang Bos saat rapat group. Ga mudah memang, sampai tidak sedikit yang punya masalah dengan kesehatan mental.

Uniknya, kisah para nabi mengajarkan kita supaya jangan lupa bahagia. Justru pada situasi sulit sekalipun.

Bahagia biasa berasosiasi dengan apa? Momen indah macam pernikahan atau perjalanan menyenangkan.

Simak kapan Nabi Musa as. menikah. Itu terjadi saat beliau sedang buron dari Mesir. Terlibat perkelahian di pasar sampai lawannya tewas.

Lari dari Mesir, singgah di suatu tempat dengan serba kekurangan. Menolong dua orang wanita mengambil air lalu diminta untuk menikahi mereka berdua.

Stay for a while, kemudian datang perintah Allah swt. untuk kembali ke Mesir. Bukan main-main, langsung untuk menasehati Fir’aun.

Bayangkan status buron di suatu negeri tapi malah diminta menghadap raja-nya. Bukan hal yang mudah tentunya. Tapi, at least beliau bahagia sejenak.

Simak kapan Rasulullah saw. diminta ‘traveling’ Isra’ Mi’raj. Itu terjadi setelah dua orang terdekat beliau wafat: Khadijah ra dan Abu Tholib.

Sampai masa itu disebut sebagai tahun kesedihan. Dua orang yang selama ini sangat memberikan perlindungan dan mendukung dakwah beliau dipanggil Allah swt.

Diperjalankan dari Masjidil Haran ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit ke tujuh. Bertemu dengan para anbiya seperjuangan dan menerima perintah shalat.

Bagaimana esoknya? Saat diceritakan perjalanan semalam, yang beriman semakin beriman, yang kafir ya semakin ingkar. Tetap dibilang orang gila, tukang sihir, dan tuduhan lainnya.

Masalah memang tidak berubah saat kita bahagia. Tapi, at least, kita bisa rehat sejenak. Mengumpulkan kembali energi, semangat, kepercayaan diri, untuk kemudian kita melanjutkan perjuangan.

Jangan lupa bahagia.

Gold Coast Airport, 3 Juni 2018