Fase Pernikahan

Wonderful Couple
Wonderful Couple

Seorang gadis bercerita, kata Syaikh Aslam pada tausyiah malam ke-2 tarawih di Multifaith UQ, bahwa kedua orang tuanya bercerai. Alasannya sederhana, sudah bosan satu sama lain..

Ini membuatnya punya konsep pernikahan yang serupa: kalau sudah bosan yang sudah. Dia tidak bisa membayangkan menjalani hidup yang lama dengan satu pasangan saja..

Saya teringat Pak Cah (Cahyadi Takariawan) saat tahun lalu di Brisbane beliau ngasih tausiah seputar keluarga dan tantangan mendidik anak. Ingat juga dengan tulisan di salah satu bukunya: Wonderful Couple..

Beliau mengutip sebuah riset bahwa ada lima fase pernikahan: [1] romantic love, [2] disappointment or distress, [3] knowledge and awareness, [4] transformation, dan [5] real love..

Akan datang suatu masa dalam pernikahan di mana kita kecewa dengan pasangan, mulai melihat cela, dan saling menyalahkan. Menariknya, fase ini menghantam tepat setelah fase romantic love di masa semua terlihat indah, cinta yang sangat menggelora, dan selalu ingin bersama..

Mereka yang dapat sabar pada fase ini, umumnya bisa memiliki kualitas hidup berumah tangga yang lebih baik. Mulai lahir kedewasaan, kematangan hubungan, dan kesungguhan untuk saling membahagiakan..

Kembali ke tausiyah Syaik Aslam di UQ. Seperti janjinya, setiap malam beliau hanya mengutip satu hadist dan membahasnya dengan singat. Not a big deal. Malam itu, beliau mengutip hadist berikut:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apalah artinya dunia ini bagiku? Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.” (HR. Ahmad and Tirmidzi)

Intinya dunia hanya sementara. Bukan waktu yang lama. Bersabar dengan pasangan berumah tangga kita. Apalagi kalau hanya masalah-masalah sepele atau kebosanan belaka..

Tujuan kita berumah tangga adalah untuk menghasilkan generasi yang lebih baik dan membantu mereka untuk mendidik anak-anaknya kelak. Bukan sekedar mencari kepuasan yang memang tidak ada habisnya dan tak akan bisa dipenuhi di persinggahan kehidupan dunia..

Brisbane, 19 May 2018 (2 Ramadhan 1439H)