Separuh Abad Dakwah di Australia: Tiga Pelajaran Utama

Pak Iman dan Bu Arum
Pak Iman dan Bu Arum

“Most people overestimate what they can do in one year and underestimate what they can do in ten years.” (Bill Gates)

Visa kunjungan orang tua ke Australia dapet 3 tahun, multiple entry. Sayangnya, setiap kunjungan hanya dibatasi 3 bulan saja.

Tak terasa Bapak dan Ibu sudah hampir 3 bulan di Brisbane. Ini berarti harus segera pulang.

Ibu minta untuk silaturahim ke rumah Pak Iman dan Bu Arum untuk pamitan. Beliau berdua adalah sesepuh yang boleh dibilang salah satu pioner dakwah di Brisbane.

Orang tua saya pertama kali bertemu beliau saat acara semacam festival islam masyarakat Indonesia yang diadakan IMCQ.

Saat datang ke rumah beliau di daerah Eight Mile Plains, sudah disiapkan beberapa makanan khas Indonesia: tempe goreng, pisang goreng, dll. Luar biasa ramah.

Tak terasa ngobrol sampai sekitar 1,5 jam. Dari mulai urusan dapur sampai kisah dakwah di Australia, khususnya di Brisbane yang sudah mereka arungi sekitar separuh abad lamanya.

Berikut saya tuliskan beberapa poin yang saya ambil pelajaran dari pengalaman beliau tentang dakwah di Brisbane.

1. Kontinuitas Dakwah

Pak Iman hampir 50 tahun di Brisbane, sejak 1971. Sebelumnya beliau di Monash Uni sejak 1965.

Dulu awalnya PIQ sekitar 73/74, umum untuk semua kalangan dan kegiatannya beragam.

Seksi kemahasiswaan jadi PPI, seksi kerohanian islam menjadi pengajian Indonesia, dan juga seksi-seksi lainnya.

Pengajian Islam awalnya hanya dari keluarga beliau, kemudian beberapa keluarga lain tertarik, hingga akhirnya banyak keluarga yang bergabung.

Pengajian Indonesia yang makin berkembang ini kemudian diformalkan menjadi IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane).

Kontinuitas selama puluhan tahun membuat islam dan dakwah tetap eksis dan berkembang sampai sebesar sekarang di Brisbane.

Dulu beliau bawa anak usia 3 SD, tak terasa tiba-tiba anaknya sudah mau mantu (yang berarti beliau akan punya cicit). Begitu pula dengan IISB. Makin berkembang, beragam kegiatannya dan teroganisir.

Pelajarannya adalah, dakwah harus terus berlanjut. Satu dua tahun perkembangan yang terlihat sederhana, dalam puluhan tahun akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Bapak Ibu bersama Pak Iman dan Bu Arum
Bapak Ibu bersama Pak Iman dan Bu Arum

2. Belajar Tanpa Memandang Usia

“The capacity of learn is a gift; the ability to learn is a skill, the willingness to learn is a choice.” (Brian Herbert)

Saat datang ke Australia, Pak Iman dan Bu Arum menyadari bahwa bekal keislaman yang dimiliki sangatlah terbatas. Tahun 60-70an pengetahuan islam di Indonesia belumlah tersebar merata dan mendalam.

Mereka sangatlah bersyukur karena justru di Australia ini mereka banyak belajar tentang Islam, mulai dari membaca Quran dengan benar sampai pada materi-materi kajian terkini.

Salah satu kunci-nya adalah keberadaan orang-orang Indonesia yang berdatangan ke Brisbane, baik itu untuk keperluan studi ataupun pekerjaan.

Semakin lama, yang datang semakin muda, semakin bersemangat, dan memiliki pengetahuan Islam yang cukup mumpuni.

Sebagai gambaran, dulu mahasiswa yang datang ke Brisbane rata-rata usia di atas 30 tahun dan mengambil master. Sekarang tak sedikit di bawah 30 tahun sudah pada ambil PhD.

Kita tidak mungkin setiap saat menghadirkan ustadz dari Indonesia karena keterbatasan dana dan resources lainnya. Paling hanya saat event tertentu sepert Ramadhan dan hari raya.

Pengajian islam terus berlangsung sepanjang tahun dengan memanfaatkan sumber daya manusia sejauh yang kita bisa.

Dengan ketiadaan ustadz, justru membuat kita lebih banyak membaca dari sumber yang syar’i, belajar untuk menyampaikan, dan yang tak kalah penting terbuka untuk saling berdiskusi.

Selama ini, kami bersyukur banyak belajar dari orang Indonesia yang hadir di sini. Terasa sekali peningkatan dari segi kemampuan bacaan Quran yang benar dan pengetahuan Islam yang belum tentu semangat dan suasana seperti ini kami dapatkan di Indonesia.

Intinya, kita harus mau belajar satu sama lain. Jangan malu belajar dengan orang yang lebih muda, apalagi klo memang dia punya semangat, pengetahuan dan kemampuan Islam yang mumpuni. Lanjutkan iklim kajian islam dari kita untuk kita.

***

(bersambung)

Merawat Sepenuh Hati

Friday Prayer at Kuraby Mosque, Brisbane, Australia
Friday Prayer at Kuraby Mosque, Brisbane, Australia

You can learn many thing from children. How much patient you have, for instance.

Franklin P. Adams

Bukan dia tidak nurut, tapi kita yang menuntutnya berlebihan..

Bukan dia mau berbohong, tapi kita menghukumnya terlalu keras..

Bukan dia suka merebut mainan temannya, tapi kita tak membelikan mainan yang ia pilih..

Bukan tabiat asalnya suka teriak, tapi hanya melihat tingkah kita dan menirukannya..

***

Kala itu, terbangun sekitar jam 3 pagi. Istri yang baru selesai cuti melahirkan sudah sibuk di sebelah..

Tangan kiri memegang anak menyusui. Tangan kanan memegang laptop, menyiapkan materi praktikum dan slide kuliah..

Luar biasa wanita (ibu). Lelaki (ayah) megang bayi paling 10 menit sudah lelah..

Ayah mengendong dengan fisik. Ibu dengan hati..

***

Teringat kisah Ust Hanan Attaki saat taraweh 15 juz di Mesir. Beliau esok lebih memilih di tempat lain karena tidak kuat..

Beliau berdiskusi dengan seorang kakek jamaah shalat taraweh yang berdurasi hampir sepanjang malam tersebut..

Heran mengapa beliau sangat khusyu’ dan tenang padahal sudah renta. Di sisi lain, Ust Hanan, yang saat itu sedang kuliah di Al Azhar, masih muda tapi tak sekuat beliau.

Sang kakek menjawab, “Kamu berdiri dengan tenaga kamu, saya berdiri dengan iman.”

Menemani Ayah weekend di Kampus
Menemani Ayah weekend di Kampus

Ya, dalam studi juga demikian. Terlebih studi doktoral yang benar-benar menyita emosi dan menuntut yang terbaik klo memang ingin punya kontribusi yang signifikan..

Yang survive biasanya bukan yang paling kuat tenaganya, paling besar beasiswanya, atau paling tidak punya beban hidup di luar studi..

Sepenglihatan saya, yang survive biasanya yang memang punya minat dengan bidang risetnya dan punya kesabaran dalam menjalani prosesnya..

Easier said than done!

***

Semoga para Ayah diberikan kekuatan hati untuk merawat anak-anaknya. Amanah dari Allah swt. yang mudah-mudahan menjadi kebanggaan dan amal jariyah kita di hari akhir..

Hati yang menjadikan kita sabar untuk menghadapi berbagai tingkah laku dari mulai yang lucu sampai yang menguras emosi dan menguji kesabaran. Hal yang tentunya dulu dihadapi orang tua saat merawat kita..

Kesabaran yang semoga menjadikan kita orang-orang yang beruntung. Menjauhkan kita dari perbuatan yang nantinya kita sesali. Apa yang lebih terhormat dibandingkan mendapatkan amanah menjadi seorang Ayah?

Hidup memang lebih simple ketika berpisah jarak dengan anak, tapi hati langsung terasa hampa. Full of responsibility, but full of joys and rewards at the same time..

***

Yang masih calon Ayah semoga juga dimudahkan untuk belajar dan mempersiapkan diri. Jangan buang tenaga dengan hal tidak penting di masa pra-nikah..

Percayalah, drama rumah tangga jauh lebih kompleks dan menarik, apalagi setelah punya anak..

Kau pikir rindu terpisah dengan (calon) kekasih itu berat? Coba bawa anak balita jumatan dan minta tenang sepanjang khutbah. 😉