Tags

,

If you didn’t learn anything today, your skills are now slightly less relevant for your career than yesterday. So learn every day!

(Andrew Ng – Co-Founder Coursera, Stanford CS Faculty, Chief Scientist of Baidu)

Officially 3 yo - First Day at Daycare!

Officially 3 yo – First Day at Kindy!

Dari Kiblat Inovasi Ke Simbol Keputusasaan

Fikri, memasuki usia tiga tahunmu ini, mari Ayah dongengkan kisah tentang Detroit. Pertengahan abad dua puluh, Detroit merupakan kota yang luar biasa. Di sana lahir beberapa perusahaan yang sangat revolusioner seperti Ford Motor Company, General Motors, dan Chrysler.

Jika Steve Jobs (Apple) dan Bill Gates (Microsoft) memiliki visi setiap orang punya komputer, maka Henry Ford dan Alfred Sloan (GM) lah yang bervisi setiap orang dengan gaji bagus bisa punya mobil sendiri. Mereka menemukan metode inovatif untuk memproduksi mobil dan truk secara massal yang merubah cara manufacturing selamanya.

Saat bisnis otomotif meledak, kekayaan kota Detroit benar-benar melimpah. Pada masa emas tersebut, jutaan orang datang membanjiri Detroit. Gaji sangat besar, pendapatan median adalah yang tertinggi di Amerika, menjadi kota pertama yang memasang nomor telepon individu, dan pencapaian luar biasa lainnya. Bahkan, ia menjadi kiblat untuk inovasi dan entrepreneurship.

Namun, semangat inovasi mereka perlahan berkurang. Mereka tak menjawab tantangan pasar (kebutuhan konsumen) seperti mobil yang lebih kecil dan hemat bahan bakar. Mereka merasa dengan MADE IN USA sudah tak akan terkalahkan dengan kompetitor manapun.

Profit anjlok besar tapi tetap tak mau ambil pusing karena masih menghasilkan billion of dollars. Puncaknya, tahun 2009 Presiden Obama mengumumkan pinjaman 77 billion dollars kepada GM dan Chrysler. Ford juga dijanjikan pinjaman serupa. Di Australia Ford menutup produksinya. Di Indonesia bahkan mereka menutup semua aktifitas bisnisnya.

Detroit terpuruk seiring dengan terpuruknya perusahaan-perusahaan di sana. Kini Detroit menjadi kota yang paling terabaikan di Amerika. Sekitar sepertiga kotanya sepi. Tidak ada kemacetan pada setiap jam dan bisa tak melihat seorangpun setelah berjalan beberapa blok.

Detroit kini menjadi kota paling berbahaya kedua di negara Paman Sam. Separuh anak-anak hidup dalam kemiskinan bahkan delapan dari sepuluh siswa kelas 8 tidak bisa mengerjakan matematika dasar. Kini Detroit adalah simbol keputusasaan.

***

Fikri, dongeng serupa pernah terjadi pada Bagdad pada abad ke-12. Kisahnya sangat memilukan sampai Ayah tak sanggup menceritakanya kepadamu saat ini. Insya Allah, pada usiamu kesepuluh, kita akan membahas dan tentunya mengambil pelajaran berharga darinya.

Untuk saat ini, hal yang ingin Ayah sampaikan adalah bahwa kejayaan itu tidak akan abadi. Allah akan mempergilirkan kejayaan dan kehancuran kepada siapa saja yang Ia kehendaki, supaya manusia dapat mengambil pelajaran. Lalu, hikmah apakah yang bisa kita ambil?

Ada beberapa faktor yang memicu keterpurukan. Jika ditarik benang merah, salah satu yang umum adalah, mereka sombong sampai meremehkan orang lain, kompetitor, atau musuh. Mereka terlena dengan pencapaian dan merasa sudah tidak perlu meningkatkan kemampuan dengan sekuat tenaga.

Itulah sebabnya, orang-orang sukses di bidang Ayah dan era teknologi informasi saat ini memiliki mindset permanent beta. Coba kita lihat Steve Jobs. Walau Apple telah menjadi perusahaan paling benefit sedunia, ia tetap bilang Apple adalah “start up” terbesar di dunia. Ia ingin Apple terus berinovasi secara dinamis dan cepat seperti layaknya sebuah start up yang baru lahir. Bahkan pada commencement speech terkenalnya di Stanford, ia menutup dengan sebuah nasehat: “Stay Hungry, Stay Foolish!”Sebuah motivasi untuk terus belajar dan berkembang.

Coba kita lihat Jeef Bezof – CEO dan Co-Founder Amazon. Walau Amazon telah menjadi perusahaan raksasa dan bahkan mungkin retail terbesar di dunia, ia tetap menulis: “It’s still Day 1”, pada setiap surat tahunan kepada para shareholder. Ini menunjukkan komitmennya bahwa Amazon akan bekerja keras untuk terus berinovasi seperti ini baru awal saja.

***

Fikri, pada zaman Ayah sekarang ada beberapa kejadian menarik. Pada sebuah majelis pengajian, Si A menjadi murid dari Si B, padahal beberapa tahun silam, Si A adalah guru dari Si B. Ditempat lain, pada sebuah universitas, Si X menjadi penguji doktor dari Si Y, padahal beberapa tahun lalu, Si Y merupakan penguji skripsi dari X. Dunia berkembang begitu cepat pada zaman Ayah, hanya dalam beberapa tahun, murid bisa menjadi guru dari gurunya dulu.

Pada zamanmu nanti, bukan tidak mungkin dunia berkembang jauh lebih cepat. Nasehat yang ingin Ayah sampaikan saat ini hanyalah: jangan berhenti belajar dan berkembang. Setinggi apapun pencapaianmu nanti, jangan pernah merasa hebat apalagi sombong dan merendahkan orang lain. Seperti nasehat ulama: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”.

Abu Fikri

Brisbane, 12 November 2016

Reading: The Start-Up of YOU by Reid Hoffman