Mang Engking - UI Depok, Nov 2014. Diner bersama Xue Li hosted by Prof Heru.

Mang Engking – UI Depok, Nov 2014. Diner bersama Xue Li hosted by Prof Heru.

Akhir Oktober 2015 ini, ada ACM Multimedia Conference di Brisbane. Baik PhD supervisor saya (Prof Xue Li) maupun supervisor istri (Prof Dian Tjondronegoro), sama-sama jadi Local Organization Chairs. Saat pertemuan-pertemuan awal PhD, diskusi dengan supervisor membicarakan juga hal pribadi termasuk keluarga. Istri bilang kalau saya juga PhD tapi di UQ (bukan QUT) dengan Xue Li. Ternyata mereka sudah saling kenal karena sudah beberapa kali meeting bareng (salah satunya) untuk keperluan konferensi ini (ACMMM).

Beberapa hari sebelum konferensi berlangsung, researchers sudah hadir di Brisbane, terutama para keynotes speakers. Salah satunya adalah seorang Prof dari TU Eindhoven. Beliau diajak tour ke QUT – lab istri saya. Pada salah satu kesempatan, profesor tersebut bilang kalau saat ini beliau sedang mencari PhD student untuk project-nya. Nah, jika ada calon mahasiswa PhD dengan interest data mining dan machine learning (nanti diterapkan pada sensor data) beliau minta tolong untuk direkomendasikan. Beliau prefer merekrut dari rekomendasi personal. Dengan kata lain, tidak menyebar iklan (PhD vacancy) di forum publik.

Sedikit banyak kita bisa memahami kemungkinan alasannya. Pertama, beliau pasti tidak punya banyak waktu untuk merekrut. Jika dipasang di forum publik, akan masuk banyak aplikasi. Mereview satu persatu kemudian menyeleksinya makan waktu tidak sedikit. Alasan kedua, lebih nyaman menerima rekomendasi calon student dari orang yang sudah dikenal daripada yang totally stangers. Apalagi juga sudah ada pengalaman buruk dengan merekrut dari applicant dengan referrers yang tidak dikenal.

Pengalaman pribadi, bagaimana saya diterima PhD di UQ, lebih kepada rekomendasi. Prof. Heru Suhartanto (dosen S1 saya di Fasilkom UI) memiliki kerjasama riset dengan School of ITEE, UQ tentang High Performance Computing. Beliau merekomendasikan saya (via email) ke Xue Li sebagai calon PhD student karena memiliki interest pada bidang yang sama (data mining dan machine learning) dan juga domain yang sama (salah satu research grant Xue Li adalah project big medical data analysis). Hanya bermodalkan CV dan rekomendasi tersebut, saya (casually) langsung diterima sebagai PhD student.

Ada pengalaman sebelumnya juga saat semester akhir S1. Pembimbing skripsi saya adalah Dr. Rahmat Widyanto – PhD dari Tokyo Institute of Technology (Tokodai). Pembimbing doktor beliau di Tokodai, Prof Kauro Hirota, jika berkunjung untuk konferensi atau workshop, menyempatkan untuk berdiskusi dengan koleganya. Selain untuk kerjasama riset, tujuannya adalah untuk merekrut Master / PhD student. Seperti Prof dari Eindhoven, beliau prefer rekrut langsung dari rekomendasi orang yang sudah dikenal. Pak Rahmat mengenalkan saya secara pribadi ke Hirota sensei. Kami diskusi bertiga di ruangan beliau setelah rapat Multimedia Understanding (MMU) Lab. Bahasanya campuran English dan Japanese. Intinya Pak Rahmat merekomendasikan saya ke Tokodai untuk summer research internship (saat itu saya sudah mendapatkan beasiswa KAUST dan duitnya sudah mengalir deras untuk ukuran mahasiswa). Alhamdulillah, summer 2009 saya berkesempatan menimba ilmu dan pengalaman ke Tokyo.

Narita - Tokyo, Jun 2009. Airport Reception

Narita – Tokyo, Jun 2009. Airport Reception

Suzukakedai Campus - Tokodai, Jun 2009. Diner Reception hosted by Hirota Lab.

Suzukakedai Campus – Tokodai, Jun 2009. Diner Reception hosted by Hirota Lab.

Kita bisa melihat bahwa tidak sedikit calon pembimbing PhD yang prefer untuk rekrut langsung atau dari rekomendasi kolega mereka. Oleh sebab itu, kita dapat memperbesar peluang diterima PhD dengan melihat peluang ini. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Jaga silaturahim. Rezeki bisa datang dari arah yang tidak kita sangka. Bisa dari dosen, teman, saudara, atau lainnya. Keep contact, sambung silaturahmi walau hanya dengan sekedar tegur sapa. Syukur jika bisa sampai saling mengingatkan dalam kebaikan.
  2. Miliki citra positif. Rekomendasi tidak akan diberikan jika image kita buruk. Pastikan memang kita dikenal mampu, baik secara skill maupun attitude. Cara terbaik adalah dengan memiliki integritas diri. Baik dihadapan orang lain maupun tidak, kita tetap punya standard yang bagus.
  3. Bangun jaringan. Perbesar peluang dengan menambah kenalan profesional. Ikut workshop atau konferensi di bidang kita, kenalan dengan orang-orang disana, coba untuk supel. Buat profil profesional di LinkedIn, join group sesuai interest kita. Biarkan orang tahu siapa kita, apa interests kita, apa skill yang kita punya.

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.” (HR. Bukhari Muslim)