Tags

 

Jumat (25 Sep) pagi di mailbox ada dua surat dari Department of Transport, Australia. Satu surat kepemilikan kendaraan (semacam STNK di Indonesia) yang kedua adalah surat tilang beserta nominal dendanya. Yang sudah pengalaman di sini saja suka kenal tilang, jadi saya sadar cepat atau lambat bakal dapet ‘surat cinta’ ini. Oleh sebab itu, sebelumnya saya sudah belajar beberapa aturan di sini dan nyetir bener-bener mengikuti aturan (yang saya fahami) tersebut.

Penasaran apa kesalahan saya. Di surat tilang tersebut, ada foto mobil beserta deskripsi lengkap kesalahan, waktu, tempat, dan sebagainya. Ternyata kesalahan saya adalah membawa mobil terlalu pelan – exceed minimum speed. Dendanya lebih dari AU$150. Saya ingat waktu dan tempat yang dideskripsikan di foto tersebut. Pada saat itu, saya lagi cari jalan memang, jadi agak lambat. Wow, ini saya baru tahu bahwa bukan hanya overspeed saja yang bisa kena tilang tapi juga underspeed. Saya konsultasi dengan tetangga, ternyata dia juga baru denger kasus tilang underspeed ini padahal sudah permanen di sini..

Perbedaan tilang di Indonesia, Arab, dan Australia

Agak patah hati pas dapet surat tilang, tapi saya coba untuk introspeksi diri dan ambil hikmah dari kasus ini. Saya sadar tilang itu tujuannya untuk kebaikan bersama – meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Mencoba mulai perenungan dengan bandingkan dengan kasus tilang di Australia dan dua negeri yang lama tinggali sebelumnya: Indonesia dan Arab. Salah satu perbedaan mendasar adalah waktu diberikannya tilang. Di Indonesia, tilang diberikan di tempat atau istilahnya on the spot fine. Di Arab, tilang diberikan via sms beberapa saat setelah melakukan pelanggaran. Di Australia, tilang diberikan melalui ‘surat cinta’ ke mail box..

Artinya, jika di Indonesia kita bawa kendaraan sampai tempat tujuan dan tidak kena tilang polisi di jalan, berarti kita aman. Di Saudi, jika kita speeding dan tidak ditilang polisi, jangan merasa aman dulu, silahkan cek sms. Pernah konvoi orang Indonesia melewati madinah road, ditempat istirahat yang dilakukan pertama kali adalah buka handphone dan cek sms – ada yang dapet notifikasi tilang dan ada yang tidak. Ada yang sampai rumah dimarahin majikannya karena yang di sms majikannya – mobil didaftarkan dengan nomor majikan..

Jika di Indo dan Saudi, kita tahu kena tilang hari itu juga, di Australia ‘surat cinta’ akan datang dua – tiga pekan setelahnya di mailbox dan dikasih waktu empat minggu untuk bayar. Jadi, jika kita merasa melakukan pelanggaran, e.g nerobos lampu merah, overspeed, melewati solid line, dsb, hati rasanya deg-degan apakah kena tilang atau tidak. Dan itu berlangsung selama beberapa pekan..

Jika ‘Tilang’ Akhirat Disampaikan Melalui Mailbox

Salah satu dampak dari tegasnya tilang di Australia adalah memang bawa mobil jadi lebih safe. Saya merasakan benar nyamannya di sini dan perbedaanya dengan di Jabodetabek. Ternyata oh ternyata, jika kita macem-macem nominalnya itu cukup menyayat hati..

Ini membuat saya meng-hisab diri hampir setiap malam. Apakah saya overspeed, menerobos traffic light, menikung di posisi yang tidak tepat, salah prioritas di roundabout dsb. Saya tidak tahu pasti jawabannya sampai nanti ada ‘surat cinta’ atau tidak dari instansi yang dilengkapi dengan berbagai alat canggih di jalan raya tersebut..

Jika saya merasa begitu khawatir dengan denda tilang, bagaimanakah ke-khawatiran saya dengan denda di akhirat nanti? Bukankah nanti ada suatu hari dimana akan diputar kehidupan kita secara utuh, tidak ada yang telewat seperti video traffic light yang tidak melulu mengikuti kita? Bukankah nanti ada catatan dimana tidak ada satupun kebaikan dan keburukan kita yang alpha atau tidak tertulis?..

Sudahkah merenung seandainya ’tilang’ akhirat diberikan lewat mailbox dengan saksi rekaman dari malaikat rokib dan atid? Hey Chandra, kamu tanggal 1 Sep jam 12, menyakiti perasaan saudara denda AU$100. Berikutnya tanggal 2 Sep jam 13, melihat yang haram di kampus denda mata kamu akan di-adzab. Selanjutnya tanggal 3 Sep jam 14 kamu membicarakan aib orang lain, pahala kamu sekian akan diberikan kepada orang tersebut. And the list goes on and on and on..

Seumur hidup, sanggupkah kita mempertanggungjawabkan semua kesalahan kita di dunia ini pada yaumil hisab dan yaumil jizan – hari perhitungan dan hari penimbangan amal? Oleh sebab itu, ada baiknya mulai saat ini memperbaiki diri dan bisa dimulai dari hal-hal berikut:

  1. Perdalam Ilmu Agama. Kita salah bisa jadi karena kita tidak tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan – seperti underspeed yang lakukan. Kita perlu meluruskan kembali akidah dan pelaksanaan ibadah sesuai dengan Al Quran dan Al Hadist serta bimbingan para ulama. Jangan sampai kita sudah keluar banyak tenaga, tapi ternyata tidak sesuai syariah sehingga amalnya tidak diterima atau bahkan mendekatkan kepada syirik. Banyak ikut pengajian dan rajin-rajin baca buku.
  2. Taubatan Nasuha. Introspeksi diri secara berkala. Hisab diri kita di dunia sebelum Allah meng-hisab kita di akhirat. Sadari kesalahan-kesalahan kita, baik kedzliman terhadap diri sendiri, orang lain, dan bahkan maksiat kepada Allah swt. Lakukan taubat nasuha kepada Allah swt. dan mohon diberikan kekuatan dan kesabaran untuk tidak mengulangi dosa-dosa tersebut kembali.
  3. Selesaikan Masalah dengan Manusia. Jika kita ingat punya kesalahan kepada orang lain, segera minta maaf. Jika masih punya hutang uang atau barang, dikembalikan sesegera mungkin.  Jika ada janji-janji yang belum ditepati atau urusan yang belum diselesaikan, segera dipenuhi.
  4. Banyak Berbuat Baik. Ini dapat menghapus dosa perbuatan buruk sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Hud ayat 114: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita jiwa yang selalu ingat akan hari akhirat sehingga kita bisa selalu mawas diri terhadap kesalahan-kesalahan kita dan juga membuat kita selalu bersemangat untuk beribadah dan berbuat kebaikan kepada sesama.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Q.S Al Baqarah: 25)